Rabu, 06 Januari 2016

Ikhlas ?



               
Selalu membosankan memasuki lingkungan baru, adaptasi lagi, mencari kenyamanan lagi, mencari rumah untuk berpulang lagi. Aku adalah Aira, wanita dengan segalanya yang hanya biasa saja. Hari itu adalah hari pertama ku menjadi mahasiswi fakultas psikologi di kampus putih yang berada di daerah Malang, hari pertama dengan orang-orang baru yang hampir semuanya belum ku kenal,dan  hari pertama menjalani masa orientasi.  Ya orientasi, hal yang menurutku sangat menyebalkan karena akan selalu di marahi senior-senior yang sok keren.
                Acara pembukaan orientasi untuk seluruh mahasiswa psikologi pun dimulai, aku berkumpul dengan kelompokku dan aku mencoba melihat-lihat kelompok lain siapa tau aku mendapatkan teman yang aku kenal dulu. Tetapi mataku membawaku melihat sosok tampan di depan kakak MC dan diam disitu agak lama, aku tidak mengenalnya tapi entah aku langsung menyukainya mungkin karena dia tampan, fikirku. Aku pun tidak melanjutkan pencarianku dan focus kepada acara orientasi meski sesekali melihat anak itu, yang akupun tidak tahu namanya.

                Beberapa hari kemudian, masa orientasi di fakultasku telah usai dan kemipun dibagi dalam beberapa kelas untuk menjalani mata kuliah yang akan datang. Setelah aku mengetahui ruang dan kelas apa yang aku dapat, aku dan teman sekelompokku, nella, yang sama dengan aku kelasnya memasuki ruangan kelas untuk mendapat arahan dari dosen wali dan saat aku memasuki kelas, betapa gembiranya aku ternyata aku satu kelas dengan dengan hmm dengan dia yang aku suka namun aku masih belum mengetahui namanya. Aku pun hanya bisa melihat dia dari jauh dan berharap bisa dekat dengan dia. Haha aku aneh memang, aku belum mengenalnya tapi aku sudah mengikrarkan aku menyukainya, ya memang itu adanya.
                2 hari setelah penutupan orientasi, aku pun mulai kuliah dengan teman – teman baruku dan dia yang kini aku mengenal namanya, ardiansyah pratama, aku mengenal saat aku bergabung dengan grup line kelasku. Aku dan dia masih belum mengenal sebenarnya, hanya sebatas tau namanya. Dan beberapa hari kemudian dia menyapaku, “a..aira kan?” katanya sambil mengingat namaku dan aku jawab “iya iyan,”.
                Semenjak kejadian itu, aku semakin dekat dengan iyan karena memang aku lebih dekat dengan teman  lelaki di kelas daripada wanita. Aku dan dia sudah sangat dekat, perasaan ini pun jatuh lebih dalam kepadanya sampai dengan aku harus kecewa karena aku mulai mengetahui cewek yang dia suka, mulai mengetahui dia dekat dengan siapa, dan mulai patah hati. Semua isi hatiku, aku ceritakan kepada teman lelakiku yang bernama awan, awan adalah teman yang dekat dengan ku dan dengan iyan, aku menceritakan bagaimana aku mengetahui semua itu, bagaimana sakit hatiku, bahkan sampai dengan aku menangis didepan awan karena hal-hal itu. Semua perlakuan, kedekatan, dan keharmonisan yang dulu pernah aku jalin dengan iyan bagai runtuh, mungkin bukan iyan yang php tapi aku yang terlalu berharap padanya.
                Dia sering bercerita padaku tentang apapun itu, dia sering makan bersama ku meski tidak hanya berdua, dan banyak hal lain yang mungkin aku salah mengartikan itu semua. Aku mulai menjauhinya, tapi dia mendekati lagi dan saat aku mendekati, dia menjauh. Aku tidak mengerti, hubungan apa ini, ada apa ini, sampai pada akhirnya kita benar-benar jauh dan dia mendekati Ira, teman sekota denganku yang kebetulan satu organisasi internal dengan iyan. Aku cemburu, ralat aku sangat cemburu saat itu, aku menangis lagi pada awan, aku hampir terpuruk akan keadaan itu. Tapi karna awan dan niatku untuk bangkit, aku bisa melewati itu, aku tlah bisa mengontrol perasaanku pada iyan. Aku dan iyan pun kembali dekat meski terkadang aku harus tahu kapan aku bersamanya dan kapan aku harus pergi agar aku tidak merasakan sakit hati saat iyan bersama Ira.
                Sudah hampir 3 bulan aku seperti ini, menyimpan perasan kepada iyan dengan atau tanpa iyan mengetahuinya dan aku berhasil mengontrol perasaanku kepada iyan, setidaknya aku tidak terlihat cemburu saat iyan dengan Ira atau yang lain, hingga saat aku melihat iyan berpegangan tangan dengan Ira, seketika aku tidak bisa mengontrol perasaanku, aku cemburu, sangat. Aku menangis, aku sakit, aku .. tapi aku harus kuat, aku bukan siapa-siapa. Aku yang sedang tidak di kondisi baik, mengirim pesan menangis di grup line kelasku, entah dia merasa atau tidak tapi dia mengomentari, “kenapa ra?” tanyanya, ku jawab “gak papa kok”, semenjak itu, dia seperti mencari tahu sosok yang membuatku menangis itu, dia sering meminjam hpku hanya sekedar untuk mencari tahu itu, untungnya obrolanku dengan awan slalu ku sembunyikan walau akhirnya diapun tahu tentang perasaanku.
                Begini ceritanya, saat pulang kuliah tiba- tiba dia mengajakku berbicara, “aira, kamu sibuk? Boleh bicara dulu gak ?”, ajaknya dan aku menjawab, “enggak yan, yaudah ngomong aja gak usah pakai ijin segala, santai aja”
“aku minta maaf ya ra,”
“buat apa yan?”
“karena aku telat sadar, aku gak ngerti perasaan kamu dari dulu, aku telat nyadar, aku nyadar saat aku udah jadian sama dia,”
Seketika jantungku serasa berhenti sejenak, aku gak nyangka ternyata iyan beneran sama ira.
“oh, gppa yan. Santai aja.. oh jadi kalian udah pacaran? Selamat ya..”
“you are the special one ra, aku tahu ini susah buat kamu tapi aku harap kamu tetap gini ya, jangan ngejauh,” lagi, jantungku berhenti. Oh tuhan aku gak tahu harus bahagia atau sedih, dia berkata demikian dengan dia tlah mempunyai tambatan hati.
“aku disini kok yan, tenang aja.” Jawabku santai sembari memberi senyuman terindahku untuknya yang milik orang lain.
                Sejak saat itu, aku dan dia bukan menjauh tapi malah dekat dan dekat sekali sampai awan bingung dengan keadaan yang seperti ini, pacaran tidak tapi temen kok gini banget katanya. Oh ya, aku lupa bercerita tentang awan, dia memang teman yang menyebalkan. Iyan tahu perasaanku ya dari awan, aku tahu perasaan iyan ya dari awan, memang awan itu menyebalkan. Dan selalu kalimat andalannya adalah, “kalau gue gak gini kan kalian gak bakal bisa kayak gini,” yang selalu saja membuat aku dan iyan diam gak bisa bales perkataannya.
                Aku sendiri masih bingung dengan ini,harus kah aku berhenti dengan keadaan seperti ini? Atau aku harus menunggu? Apa perasaan iyan sebenarnya? Memilih siapa kah dia sebenarnya ? ya pacarnya lah jelas.
                Beberapa minggu kemudian, pertanyaanku terjawab sudah. Aku harus pergi dengan membawa perasaan ini, atau mungkin lebih baik mengubur perasaanku. Kedekatanku dengan Iyan membuat orang yang melihat risih, ya memang orang yang dekat dengan kami mengetahui kami hanya “berteman” namun tidak orang lain. Aku pun mulai menjauhi Iyan (lagi) namun kali ini, aku pede sedikit ya, Iyan kangen sama aku karena ada satu hari kita chatting lama
“lagi ngapain kamu Ra?”
“Ini lagi liat tv aja sih, kamu?”
“wah pasti sinetron ya :D lagi nyantai aja sih klo aku.”
“iya :D si Rizky Nazar ganteng banget di sinetron ini eh. Hehe”
“ah masak? Ganteng aku kali wkwk btw, aku kok sekarang gak suka ya kamu muji-muji cowo lain”
Aku sempat kaget dengan pernyataannya.  Lalu ku balas, “Kenapa?”
Namun tak ada balasan darinya.
                Aku gak boleh membiarkan ini semua, aku tahu aku senang dia berkata seperti itu JIKA DAN HANYA JIKA dia tidak memiliki orang lain dihatinya.  Namun ku biarkan kali ini dia yang mencoba tuk mengklarifikasi ini semua dan benar saja, esoknya dia menemuiku awalnya kita membincangkan kawan-kawan dikelas, namun dia mulai menjurus pada pokok permasalahan kami.
“Ra, aku minta maaf ya, gak seharusnya aku gitu, aku baru sadar aku gak mau kamu pergi, aku takut kehilangan kamu. Dan aku jealous saat kamu di grup line kelas sok-sok memuji tomi. Dan aku tau ini salah, jujur saat itu aku membandingkan tingkat jealousku ke kamu dengan Ira. Dan …. “
“ya pasti ke Ira lah, orang pacar kamu kan.” Jawabku berharap bukan itu jawabannya
“akhirnya begitu. Tapi aku jujur masih gak bisa lihat kamu dengan orang lain, tapi biar lah itu jadi latihanku. Karena aku tlah memilih.”
“nah, karena setiap pilihan akan ada resikonya dan yang kamu ambil, aku harap kamu sudah siap dengan resiko yang ada.” Ucapku sembari memberi senyum tipis kepadanya.
                Mungkin sejak saat itu, aku sudah mulai menjaga jarak dengan dia, apalagi saat itu mendekati Ujian Akhir Semester 1, aku focus dengan segala mata kuliah yang akan diujikan. Aku sudah tidak sering dengan dia, mulai menjaga interaksiku didunia nyata maupun maya. Hingga pada ujian mata kuliah terakhir, dia menghampiri ku dan berkata, “ Gimana? Udah bisa move on dari aku? Hehe” dengan candaan khas Iyan banget. Aku rindu dengan itu sebenarnya. Namun aku hanya memberinya senyum sembari berlalu meninggalkannya.
                Setelah ujian, pastilah yang dinantikan adalah liburan. Aku kembali ke kampung halamanku, kampung halamanku adalah kota kecil di Jawa Timur, yang biasa di sebut kota Onde-Onde, ya Kota Mojokerto. Aku menikmati setiap jengkal kota kelahiranku itu, karena mungkin aku akan pulang ke kota itu lagi saat liburku benar-benar panjang, tidak seperti biasanya yang kadang aku setiap minggu pulang karena dekat antara malang dan mojokerto. Aku akan pindah, mengikuti Orangtuaku.
                Saat kembali ke kampus putih setelah liburan, Iyan yang sedang berjalan dengan Ira seakan mencari seseorang yang entah siapa. Sampai dia mengantarkan Ira ke kelasnya dan dia pun pergi ke kelasnya, dia tetap mencari seseorang itu. Pada saat di kelas, awan menghampirinya dan memberinya sepucuk surat.
“Dari siapa Wan?” tanyanya
“Buka aja sendiri” kata awan lalu pergi meninggalkan Iyan
Dan Iyan pun membuka dan mulai membaca isi surat itu, dan sepertinya dia sedikit kaget(kata awan sih gitu).
“Hai Iyan, selamat hari pertama di Semester 2 ya.
Maaf ya gak bisa ngasih tahu langsung, aku gak cukup kuat buat ngasih salam perpisahan
denganmu, aku harus pergi Yan, aku harus ikut orangtuaku.
Tapi mungkin kamu gak nyariin aku hehe
tapi aku tetep berpamitan denganmu meski hanya lewat surat ini
kamu jaga diri baik-baik ya disana. Jaga hubunganmu dengan Ira.
Kalau ada waktu, pasti kita akan bertemu lagi.
Sekali lagi, maaf ya aku gak bisa ngasih tahu kamu langsung.
Jangan lupa bahagia ya J
Salam sayang, Aira”
Iyan hanya memasang senyum saat ia tlah membaca surat itu, setelahnya dia mengikuti kuliah dengan baik dan saat ia pulang, dia menuju kelas Ira dan mengatakan “Ra, aku akan jaga hubungan ini.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar