Acara
pembukaan orientasi untuk seluruh mahasiswa psikologi pun dimulai, aku
berkumpul dengan kelompokku dan aku mencoba melihat-lihat kelompok lain siapa
tau aku mendapatkan teman yang aku kenal dulu. Tetapi mataku membawaku melihat
sosok tampan di depan kakak MC dan diam disitu agak lama, aku tidak mengenalnya
tapi entah aku langsung menyukainya mungkin karena dia tampan, fikirku. Aku pun
tidak melanjutkan pencarianku dan focus kepada acara orientasi meski sesekali
melihat anak itu, yang akupun tidak tahu namanya.
Beberapa
hari kemudian, masa orientasi di fakultasku telah usai dan kemipun dibagi dalam
beberapa kelas untuk menjalani mata kuliah yang akan datang. Setelah aku
mengetahui ruang dan kelas apa yang aku dapat, aku dan teman sekelompokku,
nella, yang sama dengan aku kelasnya memasuki ruangan kelas untuk mendapat
arahan dari dosen wali dan saat aku memasuki kelas, betapa gembiranya aku
ternyata aku satu kelas dengan dengan hmm dengan dia yang aku suka namun aku
masih belum mengetahui namanya. Aku pun hanya bisa melihat dia dari jauh dan
berharap bisa dekat dengan dia. Haha aku aneh memang, aku belum mengenalnya
tapi aku sudah mengikrarkan aku menyukainya, ya memang itu adanya.
2 hari
setelah penutupan orientasi, aku pun mulai kuliah dengan teman – teman baruku
dan dia yang kini aku mengenal namanya, ardiansyah pratama, aku mengenal saat
aku bergabung dengan grup line kelasku. Aku dan dia masih belum mengenal
sebenarnya, hanya sebatas tau namanya. Dan beberapa hari kemudian dia menyapaku,
“a..aira kan?” katanya sambil mengingat namaku dan aku jawab “iya iyan,”.
Semenjak
kejadian itu, aku semakin dekat dengan iyan karena memang aku lebih dekat
dengan teman lelaki di kelas daripada wanita.
Aku dan dia sudah sangat dekat, perasaan ini pun jatuh lebih dalam kepadanya
sampai dengan aku harus kecewa karena aku mulai mengetahui cewek yang dia suka,
mulai mengetahui dia dekat dengan siapa, dan mulai patah hati. Semua isi
hatiku, aku ceritakan kepada teman lelakiku yang bernama awan, awan adalah
teman yang dekat dengan ku dan dengan iyan, aku menceritakan bagaimana aku
mengetahui semua itu, bagaimana sakit hatiku, bahkan sampai dengan aku menangis
didepan awan karena hal-hal itu. Semua perlakuan, kedekatan, dan keharmonisan
yang dulu pernah aku jalin dengan iyan bagai runtuh, mungkin bukan iyan yang php tapi aku yang terlalu berharap
padanya.
Dia
sering bercerita padaku tentang apapun itu, dia sering makan bersama ku meski
tidak hanya berdua, dan banyak hal lain yang mungkin aku salah mengartikan itu
semua. Aku mulai menjauhinya, tapi dia mendekati lagi dan saat aku mendekati,
dia menjauh. Aku tidak mengerti, hubungan apa ini, ada apa ini, sampai pada
akhirnya kita benar-benar jauh dan dia mendekati Ira, teman sekota denganku
yang kebetulan satu organisasi internal dengan iyan. Aku cemburu, ralat aku
sangat cemburu saat itu, aku menangis lagi pada awan, aku hampir terpuruk akan
keadaan itu. Tapi karna awan dan niatku untuk bangkit, aku bisa melewati itu,
aku tlah bisa mengontrol perasaanku pada iyan. Aku dan iyan pun kembali dekat meski
terkadang aku harus tahu kapan aku bersamanya dan kapan aku harus pergi agar
aku tidak merasakan sakit hati saat iyan bersama Ira.
Sudah
hampir 3 bulan aku seperti ini, menyimpan perasan kepada iyan dengan atau tanpa
iyan mengetahuinya dan aku berhasil mengontrol perasaanku kepada iyan,
setidaknya aku tidak terlihat cemburu saat iyan dengan Ira atau yang lain, hingga
saat aku melihat iyan berpegangan tangan dengan Ira, seketika aku tidak bisa
mengontrol perasaanku, aku cemburu, sangat. Aku menangis, aku sakit, aku ..
tapi aku harus kuat, aku bukan siapa-siapa. Aku yang sedang tidak di kondisi
baik, mengirim pesan menangis di grup line kelasku, entah dia merasa atau tidak
tapi dia mengomentari, “kenapa ra?” tanyanya, ku jawab “gak papa kok”, semenjak
itu, dia seperti mencari tahu sosok yang membuatku menangis itu, dia sering
meminjam hpku hanya sekedar untuk mencari tahu itu, untungnya obrolanku dengan
awan slalu ku sembunyikan walau akhirnya diapun tahu tentang perasaanku.
Begini
ceritanya, saat pulang kuliah tiba- tiba dia mengajakku berbicara, “aira, kamu
sibuk? Boleh bicara dulu gak ?”, ajaknya dan aku menjawab, “enggak yan, yaudah
ngomong aja gak usah pakai ijin segala, santai aja”
“aku minta maaf ya ra,”
“buat apa yan?”
“karena aku telat sadar, aku gak ngerti perasaan kamu dari
dulu, aku telat nyadar, aku nyadar saat aku udah jadian sama dia,”
Seketika jantungku serasa berhenti sejenak, aku gak nyangka
ternyata iyan beneran sama ira.
“oh, gppa yan. Santai aja.. oh jadi kalian udah pacaran?
Selamat ya..”
“you are the special one ra, aku tahu ini susah buat kamu
tapi aku harap kamu tetap gini ya, jangan ngejauh,” lagi, jantungku berhenti.
Oh tuhan aku gak tahu harus bahagia atau sedih, dia berkata demikian dengan dia
tlah mempunyai tambatan hati.
“aku disini kok yan, tenang aja.” Jawabku santai sembari
memberi senyuman terindahku untuknya yang milik orang lain.
Sejak
saat itu, aku dan dia bukan menjauh tapi malah dekat dan dekat sekali sampai
awan bingung dengan keadaan yang seperti ini, pacaran tidak tapi temen kok gini
banget katanya. Oh ya, aku lupa bercerita tentang awan, dia memang teman yang
menyebalkan. Iyan tahu perasaanku ya dari awan, aku tahu perasaan iyan ya dari
awan, memang awan itu menyebalkan. Dan selalu kalimat andalannya adalah, “kalau
gue gak gini kan kalian gak bakal bisa kayak gini,” yang selalu saja membuat
aku dan iyan diam gak bisa bales perkataannya.
Aku
sendiri masih bingung dengan ini,harus kah aku berhenti dengan keadaan seperti
ini? Atau aku harus menunggu? Apa perasaan iyan sebenarnya? Memilih siapa kah
dia sebenarnya ? ya pacarnya lah jelas.
Beberapa
minggu kemudian, pertanyaanku terjawab sudah. Aku harus pergi dengan membawa
perasaan ini, atau mungkin lebih baik mengubur perasaanku. Kedekatanku dengan
Iyan membuat orang yang melihat risih, ya memang orang yang dekat dengan kami
mengetahui kami hanya “berteman” namun tidak orang lain. Aku pun mulai menjauhi
Iyan (lagi) namun kali ini, aku pede
sedikit ya, Iyan kangen sama aku karena ada satu hari kita chatting lama
“lagi ngapain kamu Ra?”
“Ini lagi liat tv aja sih, kamu?”
“wah pasti sinetron ya :D lagi nyantai aja sih klo aku.”
“wah pasti sinetron ya :D lagi nyantai aja sih klo aku.”
“iya :D si Rizky Nazar ganteng banget di sinetron ini eh. Hehe”
“ah masak? Ganteng aku kali wkwk btw, aku kok sekarang gak
suka ya kamu muji-muji cowo lain”
Aku sempat kaget dengan pernyataannya. Lalu ku balas, “Kenapa?”
Namun tak ada balasan darinya.
Aku gak
boleh membiarkan ini semua, aku tahu aku senang dia berkata seperti itu JIKA
DAN HANYA JIKA dia tidak memiliki orang lain dihatinya. Namun ku biarkan kali ini dia yang mencoba tuk
mengklarifikasi ini semua dan benar saja, esoknya dia menemuiku awalnya kita
membincangkan kawan-kawan dikelas, namun dia mulai menjurus pada pokok
permasalahan kami.
“Ra, aku minta maaf ya, gak seharusnya aku gitu, aku baru
sadar aku gak mau kamu pergi, aku takut kehilangan kamu. Dan aku jealous saat
kamu di grup line kelas sok-sok memuji tomi. Dan aku tau ini salah, jujur saat
itu aku membandingkan tingkat jealousku ke kamu dengan Ira. Dan …. “
“ya pasti ke Ira lah, orang pacar kamu kan.” Jawabku
berharap bukan itu jawabannya
“akhirnya begitu. Tapi aku jujur masih gak bisa lihat kamu
dengan orang lain, tapi biar lah itu jadi latihanku. Karena aku tlah memilih.”
“nah, karena setiap pilihan akan ada resikonya dan yang kamu
ambil, aku harap kamu sudah siap dengan resiko yang ada.” Ucapku sembari
memberi senyum tipis kepadanya.
Mungkin
sejak saat itu, aku sudah mulai menjaga jarak dengan dia, apalagi saat itu
mendekati Ujian Akhir Semester 1, aku focus dengan segala mata kuliah yang akan
diujikan. Aku sudah tidak sering dengan dia, mulai menjaga interaksiku didunia
nyata maupun maya. Hingga pada ujian mata kuliah terakhir, dia menghampiri ku
dan berkata, “ Gimana? Udah bisa move on dari aku? Hehe” dengan candaan khas
Iyan banget. Aku rindu dengan itu sebenarnya. Namun aku hanya memberinya senyum
sembari berlalu meninggalkannya.
Setelah
ujian, pastilah yang dinantikan adalah liburan. Aku kembali ke kampung
halamanku, kampung halamanku adalah kota kecil di Jawa Timur, yang biasa di
sebut kota Onde-Onde, ya Kota Mojokerto. Aku menikmati setiap jengkal kota
kelahiranku itu, karena mungkin aku akan pulang ke kota itu lagi saat liburku
benar-benar panjang, tidak seperti biasanya yang kadang aku setiap minggu
pulang karena dekat antara malang dan mojokerto. Aku akan pindah, mengikuti
Orangtuaku.
Saat
kembali ke kampus putih setelah liburan, Iyan yang sedang berjalan dengan Ira
seakan mencari seseorang yang entah siapa. Sampai dia mengantarkan Ira ke
kelasnya dan dia pun pergi ke kelasnya, dia tetap mencari seseorang itu. Pada
saat di kelas, awan menghampirinya dan memberinya sepucuk surat.
“Dari siapa Wan?” tanyanya
“Buka aja sendiri” kata awan lalu pergi meninggalkan Iyan
Dan Iyan pun membuka dan mulai membaca isi surat itu, dan
sepertinya dia sedikit kaget(kata awan sih gitu).
“Hai Iyan, selamat hari pertama di Semester 2 ya.
Maaf ya gak bisa ngasih tahu langsung, aku gak cukup kuat buat ngasih
salam perpisahan
denganmu, aku harus pergi Yan, aku harus ikut orangtuaku.
Tapi mungkin kamu gak nyariin aku hehe
tapi aku tetep berpamitan denganmu meski hanya lewat surat ini
kamu jaga diri baik-baik ya disana. Jaga hubunganmu dengan Ira.
Kalau ada waktu, pasti kita akan bertemu lagi.
Sekali lagi, maaf ya aku gak bisa ngasih tahu kamu langsung.
Jangan lupa bahagia ya J
Salam sayang, Aira”
Iyan hanya memasang senyum saat ia tlah membaca surat itu,
setelahnya dia mengikuti kuliah dengan baik dan saat ia pulang, dia menuju
kelas Ira dan mengatakan “Ra, aku akan jaga hubungan ini.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar